RUANG BACA

Kartu Pos Berantai, Surat Pos dan Detektif Pos
Post by Rizki Ramadhan003 April 2013

Gara-gara mengikuti program Kartu Pos Berantai, saya jadi penasaran apa saja yang dilalui kartu pos dari mulai dikirim hingga mencapai alamat tujuan.

Sekalipun membaca imbauan memakai jasa pengiriman tercatat, saya termasuk peserta bandel sehingga tetap menggunakan prangko dalam permainan kartu pos berantai. Alasannya, salah satu daya tarik permainan ini adalah jumlah prangko yang menempel di muka kartu pos. Mendampingi isi dan ilustrasi kartu, bukankah prangko juga memiliki ceritanya sendiri? Saya menyadari kemungkinan hilangnya kartu pos dalam pengiriman, tetapi menganggapnya sebagai dinamika suatu permainan. Di mana tidak ada jaminan semua peserta akan mencapai garis finish meskipun telah berusaha sebaik mereka bisa.

Namun, rasa bersalah berkecamuk begitu kartu pos berantai berpindah tangan ke petugas kantor pos. Permainan ini kan bukan milik kamu saja, Andika! Bagaimana perasaan teman-teman sekelompok kamu jika kartunya gagal mencapai mereka? Bagaimana perasaan admin yang sudah menggunakan waktu, tenaga, dan biaya untuk merancang dan menjaga permainan ini? Bagaimana dengan tenggat waktu yang semakin dekat? Bagaimana, bagaimana, bagaimana? Perasaan ini menghantui sampai-sampai saya melakukan kegiatan yang biasa dilakukan setiap ingin menceriakan diri sedikit: mengunjungi toko barang antik. Tahu-tahu ketika membolak-balik halaman setumpuk majalah lama, saya menemukan artikel berikut,

Artikel tersebut dimuat di majalah INTISARI No. 77 Tahun VII, 5 Desember 1969. Pengantarnya mengingatkan saya akan keluhan yang kadang-kadang muncul di linimasa Twitter Card to Post. (“Udah ngirim lima kartu pos dari bulan lalu, nggak ada yang sampai!!!11”) Dengan ejaan dipertahankan sesuai aslinya, berikut isi artikel sepanjang kurang dari dua halaman A5 ini:

APAKAH TUGAS SEORANG DETEKTIP POS

Mendengar perkataan “Pos”, segera saja asosiasi pikiran kita hinggap pada surat jang datang terlambat, surat hilang di djalan atau kiriman dari luar negeri jang ditjuri isinja

Itu tadi segi negatipnja. Tapi setiap usaha mempunjai segi2 positip. Sajang tidak banjak orang jang tahu atau menghargainja. Dibawah ini beberapa tjontoh

Oleh : Sisdjabar

Bagian ,,Rebuten” atau Suratbuntu tidak dikenal oleh umum. Disini bekerdja beberapa ,,Detektip Pos” jang kerdjanja memutar otak untuk memetjahkan teka-teki jang dihidangkan oleh pengirim2 surat jang kurang tahu atau tidak teliti dalam menulis alamat surat.

Makin banjak orang jang melekhuruf makin banjak jang berkirim surat dan makin banjak pula teka-teki jang disadjikan oleh publik.

Alamat jang tidak lengkap tidak memuat nama djalan, nomor rumah, nama kota tudjuan atau ditulis dalam huruf Tjina merupakan unsur2 jang memperlambat penjerahan pos.

Walaupun demikian, Pos masih berusaha menjampaikan surat tersebut kepada sialamat. Baru setelah usaha ini gagal, surat dikirimkan kembali kepada sipengirim.

Tapi tjelakalah sipengirim sering lupa menuliskan alamatnja sendiri setjara lengkap, sehingga surat tidak bisa diretour.

 

Dalam hal ini surat diteruskan kebagian Rebuten. Beberapa tjontoh teka-teki lutju dan aneh jang pernah menjebabkan para pengantar pos garuk2 kepala jang tidak gatal dan jang pernah diteruskan kebagian Rebuten untuk dipeladjari a.l. :

Sehelai kartupos dengan alamat :

Jang terhormat

Bang Hadji Ichsan

dekat mesdjid Rawabangke

didepannja ada pohon ketjapi,

Mester

Surat tersebut achirnja dapat djuga disampaikan kesialamat. Tapi perlu diterangkan bahwa itu di Rawabangke ada 2 mesdjid, sehingga pengantar pos terpaksa ber-keliling2 sekitar kedua mesdjid itu sambil mata sering2 diarahkan keatas untuk mentjari pohon ketjapi.

Baik pula didjelaskan bahwa jang dimaksudkan dengan Mester ialah Meester Cornelis jang sekarang bernama : Djatinegara.

 

***

Seputjuk surat dari daerah tambang emas Bangkajang (Kalimantan Barat) untuk seseorang di Weltevreden (Djakarta), pernah membuat detektip2 pos kewalahan.

Berbagai keterangan jang sama sekali tidak memberi keterangan, surat tersebut diberi peta letak rumah. Tapi nama djalan atau petundjuk2 lain jang dapat dijadikan antjer2 tidak ada. Hanya diberi gambar panah jang pada udjungnya ditulis : Ini rumahnja.

***

Sebuah surat diterima dari luar negeri dengan alamat lengkap, bahkan lebih dari lengkap karena nomor tilponnja djuga ditjantumkan.

Nama djalan masih memakai nama lama, Helmersweg, padahal djalan itu sekarang namanja Djl. Dr. Radjiman. Surat disampaikan ke Djl. Dr. Radjiman, kenomor rumah jang dimaksudkan.

Tapi keesokkan harinja dikirmkan kembali kepada Ekspedisi Pos dengan tjatatan memakai tinta merah : tidak dikenal.

Pemakai tilpon jang nomornja terjantum pada surat ternjata berbeda dari penghuni rumah dengan alamat di atas. Ketika sipemakai tilpon dihubungi, ternjata nama sialamat tidak dikenal djuga.

Selidik punja selidik, sialamat surat sudah lama meninggalkan Indonesia dan alamat tadi didapat dari buku tilpon terbitan sebelum Kemerdekaaan.

***

Dari India diterima sebuah surat dengan alamat jang dalam bahasa Indonesianja berarti :

Kepada

Nona Mien, mungkin djuga namanya Mimien,

Orang kedua dari sebelah kiri,

Bandung (Indonesia)

Dibelakang sampul tertempel sebuah foto jang memperlihatkan beberapa orang pria dan wanita dari berbagai bangsa.

Surat berpindah tangan dari seorang pengantar pos kepengantar pos jang lain, tapi tidak seorangpun jang mengenal nama Mien jang dimaksud. Achirnya surat diteruskan kebagian Rebuten.

Setelah diperhatikan dengan seksama, ternjata foto dibuat dimuka gedung ,,Merdeka”, Bandung.

Waktu itu Konperensi Mahasiswa se-Asia-Afrika tahun 1956 belum lama ditutup. Maka timbullah dalam benak salah seorang detektip pos suatu pikiran : ,,Mungkin sipengirim surat ini seorang peserta dan siwanita (nona Mien) djuga peserta dari Indonesia.

Benar foto itu diperlihatkan kepada Panitya Konperensi, Mien jang dimaksud dikenal sebagai salah seorang guide.

Dengan demikian surat jang tidak lazim dan penuh teka-teki itu achirnja sampai djuga kesialamat!

***

Ketika beberapa waktu lalu saya melakukan kunjungan mingguan ke kantor pos, tidak hanya kartu pos yang saya bawa, tetapi juga sederet pertanyaan.

Jadi proses apa saja yang dilalui kartu pos sejak dikirim sampai diterima? Mengapa durasi pengiriman dengan prangko kerapkali tak bisa ditebak? Mengapa biaya pengiriman berbeda-beda? Apa yang membuat surat dan kartu pos tak sampai ke alamat penerima? Ke mana perginya mereka? Apakah bisa dicari? Bagaimana jika sebetulnya dia mengirim surat balasan, tetapi surat itu hilang di perjalanan? (T.T) Adakah detektif pos yang dapat membantu saya?

(ditulis oleh Andika Budiman )

Jika kamu punya artikel, opini, cerita menarik tentang kartu pos bisa dikirimkan ke redaksi kami: Cardtopost@gmail.com . Dengan senang hati, kami akan memuatnya. 

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger