RUANG BACA

[Interview] Fanni Yudharisman: Pengrajin Kartu Pos Aneka Rupa
Post by Hafiz Badrie Lubis013 Mei 2013

 

]

 

 

Tercatat pada tanggal 26 Desember 2011, email Card to Post kedatangan sebuah formulir daftar anggota. Nama yang tertera di situ adalah Fanni Yudharisman. Setelah itu, email request alamat beratasnamakan cewek asal Bandung ini sering hinggap di inbox, disusul oleh email foto kartu-kartu pos dari teman-teman anggota yang dikirimi Fanni. Kartu pos kreasi Fanni selalu menarik. ia melukis dengan cat air, menempel-tempel potongan kertas, dan yang paling eksentrik, ia membuat kartu pos yang berhiaskan daur ulang barang-barang habis pakai.  

Kartu pos Fanni juga selalu ditempeli hasrat pertemanan yang besar. Lewat kartu pos ia menyapa, berkenalan, dan bercerita. Tak ayal, banyak teman baru yang ia jaring. Di kesempatan kali ini, Fanni kami undang untuk ngobrol-ngobrol. Memperkenalkan dirinya lebih jauh, berbagi kiat berkreasi di kartu posnya yang unik itu dan menceritakan pengalamannya ber-Card to Post. 

Fani.. fani fani.. siapakah Fanni Yudharisman itu? Kenalkan kami dengannya doong. 

Fanni Yudharisman itu adalah saya. Kembar dari dua bersaudara. Tahun ini umurnya 23 dan sedang beradaptasi dengan dunia kerja hospitality (perhotelan). Saya gampang tertarik dengan hal baru, makanya kalau ketemu teman baru suka sok akrab (ngaku) haha. Saya juga aktif volunteering di beberapa komunitas lokal Bandung. 

 

Menurut kabar, si Fanny itu doyan banget berkirim kartu pos. Apa sih gerangan yang membuatnya tertarik? 

Saya suka berkirim kartu pos karena bisa menyalurkan hobi. Hobi saya adalah berkenalan sama teman baru dan cerita-cerita sampai jadi teman sungguhan. Selain itu saya suka dunia crafting dan segala pernak pernik handmade. Saya pikir membuat kartu sendiri bisa menjadi tantangan yang seru. Dengan mengirimkannya juga jadi ajang uji nyali, apakah si penerima kartu akan suka dengan kartu yang saya buat atau nggak. 

 

Pertanyaan narsis nih, waktu itu tahu Card to Post dari mana dan kenapa tertarik gabung? hehehe

Pertama kali tahu Card to Post dari twit salah seorang sahabat, namanya Lala Sabila, dia cerita  tentang keberadaan komunitas baru dan unik ini. Langsung saya buka blog Card to Post dan mendaftar. Di sana saya banyak baca profil pribadi singkat yang ditulis oleh teman-teman anggota. Semuanya punya karakter yang bikin saya mengkhayal. Sepertinya seru berkirim kartu ke orang yang belum dikenal. 

 

Sebelumnya kamu pernah berkirim benda pos juga kah? Terus menurut kamu, kenapa sih berkirim kartu pos itu seru banget?

Awal mula saya berkirim benda pos adalah saat saya mengirim kartu ucapan selamat lebaran ke kakek nenek. Itu pun karena dipaksa oleh papah. Tapi pengalaman mengirim kartu lebaran cukup berkesan dan membuat saya rindu ingin kembali melakukannya. Apalagi kartu pos itu benda yang sangat unik. Pesan yang disampaikan, keunikan kreasi dalam kartu dan pengalaman mengantarkan kartu ke kantor pos menjadi daya tarik utama bagi saya.

Berkirim kartu pos itu seru karena oh karena kita bisa deg-degan menanti kartu yang akan tiba dan berharap kartu yang kita kirim sampai dengan selamat di tangan si penerima. Selain itu kirim-kiriman kartu pos bisa nambah kenalan baru, pengetahuan baru (dari cerita si pengirim) dan jadi penyelamat tradisi berkirim kabar menggunakan media pos. Kalau bukan kita siapa lagi? Wuihhh. Kayak slogan caleg.

 

Kamu kan sudah cukup sering nih bikin kartu pos. Nah kartu pos seperti apa aja sih yang sudah kamu buat? Bagi kiat-kiatnya dong. :D

Saya ingat kartu pertama saya. Dibuat pakai kertas daur ulang warna-warni dan potongan kolase. Belum puas, saya tambahkan benang kasur dibuat menyerupai jemuran yang menggantung. Sepertinya cukup absurd. Bukannya nggak mau pakai desain digital dan cetak foto. Tapi memang nggak bisa dan nggak punya koleksi foto yang mumpuni (kasihan yah). Jadilah dari keterbatasan itu saya mencoba untuk lebih kreatif. Mulailah saya merambah dunia lukis cat air. Itu juga lucu, karena saya udah lama nggak gambar,  apalagi sebelumnya belum pernah pakai cat air. Jadi beli dulu cat airnya, urusan bisa atau nggak gambarnya itu belakangan. Hasil gambar di kartu pertama saya juga jelek dan belepotan banget. Syukurlah lambat laun ada peningkatan (memuji diri sendiri.  Haha).  

Setelah cukup tekun dengan membuat kartu gambar cat air, saya coba media baru nih. Ceritanya inovasi. Saya mulai mengumpulkan sampah plastik di rumah untuk dijadikan kolase di kartu. Sekarang orang rumah udah hafal kalau saya lagi mencuci, makan permen, ngepel pasti semua bungkusnya saya kumpulin lalu dicuci bersih dan digunting untuk kolase. 

Selain itu, karena penasaran saya sempet iseng pengin coba praktek bikin celup ikat sendiri seperti jaman SD dahulu. Nah hasilnya dijadikan kartu dengan tambahan jaitan tangan deh. Gara-gara itu saya jadi suka jahit-jahit pakai kain perca dan kain flannel juga. 

Nah, soal waktu pengerjaan nggak pernah lama kok, satu kartu paling menghabiskan setengah sampai satu jam. Dikerjakan di akhir minggu, kalau pas hari kerja udah nggak sempet. Huhu.

kartu pos daur ulang

 

kartu pos daur ulang

kartu pos jahit

 

 

Menurut biodatamu di Card to Post, kamu kan suka musik, crafting dan watercolor. Apakah ketertarikanmu itu mempengaruhimu dalam pembuatan kartu pos?

Iya dong, seperti yang sudah diceritakan saya suka pernak-pernik handmade dan crafting. Sebisa mungkin saya kirim kartu buatan sendiri. Saya suka beli kartu yang dijual, tapi kartu itu hanya dikoleksi. Untuk dikirim tetap saya buatkan special handmade. 

Kalau musik sebagai penyemangat dalam membuat kartu. Tapi pernah juga bikin kartu pos bertema musik. Waktu awal gambar kartu menggunakan cat air, saya sedang suka-sukanya sama band Dialog Dini Hari. Di atas kartu itu saya tuliskan lirik salah satu lagu mereka Pohon Tua Bersandar. Liriknya seperti ini : 

Jika tangan merubah takdir, bukit menjelma taman surgawi

Ku yakin engkau lah tangan itu

Jika mata air mengalir, sudahi pekik pohon tua menjerit

Dikau lah mata air itu

Dan saya mention ke akun Twitter mereka, eh malah mereka minta dikirimin ke markasnya di Bali sana. Ah senangnya, walaupun saya nggak tahu kartunya sampai atau nggak, karena mereka tidak membalasnya, tapi nggak apa-apa. Begitu juga saya sudah bikin senang dan makin semangat buat kartu lagi.

 

Wah, menarik banget. Kalau bisa si Dialog Dini Hari-nya diajak gabung juga deh ke Card to Post. Nah, kalau soal kreativitas, biasanya kamu mencari inspirasi dari mana sih?

Inspirasi biasanya dari browsing internet dan hal-hal di sekitar. Saya juga sering terinspirasi manga favorit saya, Yotsuba! Saya sampai buat kartu edisi Yotsuba. Tiga kartu sekaligus. Yotsuba itu karakter yang unik, mengajarkan banyak hal dibalik ceritanya yang sederhana. 

Ruang publik juga banyak memberikan aspirasi, untuk itulah di edisi 1000 Kartu pos Untuk Presiden saya pribadi memang menyampaikan aspirasi untuk penambahan ruang publik yang bisa diaktivasi oleh anak muda lokal dan dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat. Jangan sampai tempat gaul anak muda yang nyaman hanya yang ber-AC, di mal. Saya sendiri jarang ke mal kalau nggak perlu. Lebih baik ke taman kota, museum, galeri dan ruang komunitas. 

Nah untuk Kartu Pos Berantai saya cukup putar otak untuk cari inspirasi. Tema Childhood dan berantai membuat saya harus bisa menyelaraskan gambar saya dengan yang sudah dibuat penggambar pertama. Akhirnya gambar anak kecil yang meniup gelembung sabun saya pilih. Karena mainan anak yang mudah didapat dan waktu kecil saya suka main ini hehe.

kartu pos Yotsuba

 

kartu pos Yotsuba

kartu pos berantai

kartu pos untuk presiden

 

Sejauh ini, kamu sudah mengumpulkan berapa kartu pos dari teman-teman Card to Post? Kartu pos mana yang favoritmu

Sudah lumayan banyak. Ada 45. Semua saya tempatkan di kotak sepatu dan sudah hampir penuh. Selain itu saya juga suka minta oleh-oleh dari teman yang pergi keluar negeri untuk dikirimkan atau dibelikan kartu pos dari negeri tersebut. Bahkan banyak juga yang tanpa diminta dengan sukarela dan penuh kasih sayang memberikan saya kartu pos secara cuma-cuma karena mereka tahu saya suka. Baik sekali yah. 

Salah satu kartu favorit saya adalah kartu dari Dea Marta, dia membuat kartu daur ulang dari kotak bekas bedak menjadi robot fashionista. Lalu kartu pertama yang saya terima dari Andika Budiman, daur ulang juga dari bungkus Kopi Aroma, kopi legendaris sejak jaman Belanda di Bandung. 

Tak lupa juga kartu pertama dari Rofida Amalia, dia memberikan print foto sebuah jembatan. Keindahan foto tersebut dan foto dalam kartu balasan selanjutnya memberanikan diri saya untuk mengajak Fida membuat sebuah proyek suka-suka. Fida mengirimkan foto, saya mencoba menuliskan interpretasinya. Hasilnya bisa dilihat di blog saya. Sebuah nilai tambah dari niat awal hanya menjadi teman bertukar kartu di Card to Post. 

Isna Saragih juga sukses membuat saya selalu menunggu kehadiran kartu pos jumbo nya. Secara keseluruhan semua kartu yang diterima memiliki kenangan dan keunikan yang membuat senyum saya merekah saat mendapati sebuah kartu yang baru tiba dirumah..

kartu pos dari Isna Saragih

 

kartu pos dari Dea Martha

kartu pos dari Rofida Amalia

kartu pos dari Andika Budiman

Kamu memajang kartu pos itu di kamar kah, seperti apa pajangannya?

Sejak memiliki koleksi kartu saya menggantungnya menggunakan tali yang direntangkan, mirip jemuran. Awalnya saya melakukannya di kamar asrama (saat kuliah saya tinggal di asrama) sehingga menjadi hal menarik yang selalu dikomentari oleh teman yang bertandang ke kamar. Nah, saat tinggal di rumah, setelah melalui perdebatan dengan si mamah, akhirnya saya diijinkan untuk memajang di salah satu dinding kamar. Namun sayangnya beberapa bulan kemudian mamah berubah pikiran, makin banyak rupanya koleksi kartu yang saya “jemur” di sana. Dengan berat hati diturunkanlah jemuran kartu saya. Sekarang saya menyimpannya di kotak sepatu dan kartu-kartu terbaru yang belum saya sempat balas, saya pisahkan di sebuah amplop plastik berwarna putih. Agar ingat terus jumlah hutang kartu yang belum saya balas hehe. 

 

Ya, memang ada banyak cara untuk menyimpan kartu pos, tapi kalau menurut kamu kartu pos itu enaknya dipajang dimana dan seperti apa?

Menurut saya, selain di pajang di dinding kamar, saya sepakat dengan metode Andika Budiman yang menaruh koleksi kartunya di foto album. Jadi mudah membuka dan tertutup oleh kantung kantung plastic bening. Mudah dibawa dan aman dari ancaman debu dan air. Patut ditiru!

Oh iya, saya juga memajangnya di album Facebook saya dan blog. Sehingga bisa dilihat oleh teman-teman yang lain.

pajangan kartu pos

Selama bergabung di Card to Post, ceritakan dong pengalaman-pengalaman seru kamu selama berkirim kartu pos dan berteman lewat kartu pos? Pernah ngalamin kartu pos yang nggak sampai nggak? Atau juga pernah berkopi darat dengan teman yang dikenal lewat kartu pos?

Kartu pos yang nggak sampai? Hmm sepertinya jarang. Asumsi saya kartu yang nggak sampai itu biasanya karena si penerima nggak memajangnya di web atau tidak memberi kabar melalui Twitter. Syukurlah hampir semua kartu saya sampai. Cuma agak sedih saat awal-awal mengirim kartu kolase, saat tiba di penerima beberapa bagian kolase yang ditempel copot dari kartunya dan hilang di jalan. Sejak saat itu saya selalu membungkus kartu menggunakan plastik bening.

Saya pernah berkopi darat dengan sengaja dengan Lily (Livia Meilani) di Tobucil, dan Andika Budiman di Reading Lights (Bandung, red). Rencananya saya ingin sekali mengumpulkan semua teman Card to Post yang berdomisili Bandung untuk saling mengenal dan bercerita tentang kegemaran berkirim kartu pos. Karena kesenangan saat bercerita hal tersebut sudah saya rasakan pada saat bertemu Andika Budiman. Kami langsung ngobrol banyak hal bahkan bertemu kembali untuk membuat kartu bersama di sebuah kedai kopi. Setelah itu saya juga ingin bertemu untuk sekedar ngobrol atau mencoba kelas yoga gratis bersama di hutan kota, seperti hari ini (21/04). Seru sekali, kebayang kalau satu kota Bandung. Soalnya saya iri dengan teman-teman Jakarta yang masih bisa berkumpul di acaranya Card to  Post di Jakarta. hehehe. 

 

O ya, kamu kan cewek gemini yang punya saudara kembar. Nah, dia kok nggak ikutan kirim-kiraman kartu pos sih. Terus terus apa komentar dia tentang kegiatan kirim-kiriman kartu pos ini?

Peran serta kembaran saya cukup besar dalam kegiatan Card to Post yang saya tekuni. Dialah juru foto semua kartu yang saya terima maupun yang saya buat. Saya selalu mengambil gambar semua kartu, dan Finna yang dengan sabar dan terampil saya mintakan tolong. Dia sangat mendukung kegiatan saya dan memberi tahu apabila ada kiriman kartu baru di rumah. 

 

Kalau boleh ngayal, siapa orang yang pengen banget kamu dapetin kartu pos kiriman dari dirinya? Kenapa?

Saya ingin dapat kartu pos dari seluruh anggota Card to Post. Hehe kadang, tiap kali liat halaman Ruang Pamer di web Card to Post suka sirik. Kok aku belum dikirim dari dia ya? Padahal kan harusnya aku juga yang kirim duluan. Semoga setelah ini banyak teman-teman Card to Post yang kirim ke aku yaa (ngarep)

 

Sebagai pemudi kreatif, punya ide gila apa nih untuk membuat kartu pos? Hehe.

Ide gila untuk bikin kartu pos salah satunya sudah diselenggarakan oleh Card to Post yaitu Kartu pos Berantai. Itu seru banget walaupun punya kelompokku nggak balik ke Rizki. 

Nah kalau ide gila sih aku pengin bikin kartu pos dengan material yang makin variatif. Selain sampah dan kain aku mau coba kolase dari bahan-bahan yang lebih meriah. Bantuin kasih ide ya (malah minta ide balik) haha. 

Oia satu lagi, saya ingin Card to Post bisa berkolaborasi dengan komunitas lokal di daerah masing-masing dan membuat kegiatan menulis dan mengirim kartu masal, misalnya kita dalam satu hari serentak bikin kartu di masing-masing daerah dan mengirimkannya. Semoga terwujud, amiin!

 

Kamu punya usul nggak untuk Card to Post, bagi doong.. hehe.

Usulnya untuk tetap semangat menggalakkan gerakan Card to Post ini dan tambah terus proyek-proyek seru dan bertema. Jangan lupa bikin gathering di Bandung dan update terus website nya.

 

Teman-teman anggota lainnya kan pasti bakal baca ceritamu ini. Coba kamu dadah-dadah ke mereka dan sampaikan suatu pesan. Minta dikirimin kartu pos juga boleh.

Halo semuaaa! Pesan saya sih simpel mari kita lestarikan budaya berkirim kartu pos. Tularkan ke sekitar. Ajak mereka menikmati serunya berkirim kartu. Coba dengan kirimkan dulu kartu darimu ke yang lain, mudah-mudahan bersambut dan makin banyak kawan yang bisa kita jadikan teman berkirim kartu pos. 

Oia yuk coba juga kirim kartu dengan bahan-bahan bekas atau sampah, selain mengasah kreativitas juga mengurangi jumlah sampah di rumah (jadinya dikirim ke rumah orang lain, lho? Haha). Salam kecup perangko!

 

 

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger