RUANG BACA

[Interview] Isna Saragih: Kartu Pos Cinta Dari Jambi
Post by Rizki Ramadhan030 Mei 2013

Sejak mengenal Card to Post dari posting blog kawannya, Isna pun bergabung dan mulai rajin berkirim kartu pos. Bahkan di awal ia mengirim banyak sekali kartu pos untuk para anggota Card to Post. Beberapa anggota membalas kirimannya. Kartu pos Isna pun kian beragam bentuknya: foto, kolase koran hingga gambaran kisah percintaannya dengan istrinya. Nah, salah satu sahabat penanya, Fanni Yudharisman ngajak Isna ngobrol-ngobrol seputar kartu posnya. Mari disimak. 

Fanni (F): Lapor! Fanni Yudharisman hadir untuk mengulik kisah salah satu penggiat Card to Post  dari Jambi. Isna Saragih namanya. Setelah sekian lama cukup intensif berkirim kartu dengan Mas Isna, Fanni diberikan ‘tantangan’ oleh Rizki Ramadan. ‘yang sudah di interview harus gantian meng-interview anggota lain’ begitu pesan bapak Kiram. Wuih, siapa takut? Langsung saja sepulang kerja yang sudah lewat jauh dari jam seharusnya (jadi curhat), Fanni kirimkan beberapa pertanyaan melalui email. 

Halo Mas Isna, Ceritain dong tentang Mas Isna, siapa dia dan apa kesehariannya :) 

Isna (I): Halo juga Fanni :-) Saya mas-mas kantoran saja kok. Kerja di sebuah kantor pemerintah dari jam setengah delapan sampai jam lima sore. Dari Senin sampai Jumat.

 

F: Wah gara-gara aku panggil Mas, jadi ngaku mas- mas kantoran nih. Hehehe…. Mas Isna bergabung dengan Card to Post sejak kapan? Apa yang membuatmu tertarik untuk bergabung?

I: Hmm...tepatnya sih lupa. Kalau nggak salah sejak Mei 2012. Baca dari blog punya Ari Murdiyanto tentang hobi barunya koleksi kartu pos. Sepertinya itu asyik sehingga saya jadi penasaran dan pengen ikutan gabung.

 

F: Ceritain dong pengalaman berkirim maupun membuat kartu posmu yang paling seru. Karena selama Fanni terima kartu dari Mas Isna, Fanni selalu terkesan dengan karakteristik kartu Mas yang ukurannya besar, kolase dari koran, gambar tangan dan isi cerita dalam kartu yang sangat personal. Apa memang pribadi Mas Isna mempengaruhi itu semua?

I: Buat saya setiap kartupos buatan tangan (handmade) itu unik karena kartu jenis begitu cuma dibuat satu dan cuma sekali seumur hidup (lebay :) Bingung saya kalo ditanya mana kartu pos paling berkesan yang pernah dibuat. Untuk kartu pos kliping koran saya biasanya sortir dari koran kantor. Saya pilih yang ada kosakata bahasa Jambi biar terkesan unik. Untuk menemukan klipingan koran ini biasanya butuh waktu lama soalnya tidak setiap hari karikatur yang dimuat di koran bagus dan layak kirim. Jadi perlu kesabaran. Btw, ketika bosan kirim klipingan koran saya beranjak ke kartupos gambar pastel. Karena kebingungan ide saya tulis aja sejarah 'percintaan' saya dan pasangan. Hihihi. Eh..nggak taunya Fanni suka kartu pos itu :-) 

 

F: Suka sekali, Mas. Menyentuh dan membuat bahagia setiap membacanya. Seperti jadi saksi sejarah keluarga kecil Mas Isna, hehe. Fanni sangat surprised ketika mengetahui mas isna sudah berkeluarga dan sekarang sedang menunggu kelahiran anak pertama. Bagaimana komentar istri dan keluarga tentang dirimu yang masih berkirim kartu pos? 

I: Awalnya istri saya heran kenapa tiba-tiba saya demen koleksi kartu pos. Di jaman serba modern ini rupanya masih ada segelintir orang yang masih suka hal-hal yang dianggap kuno seperti kartu pos. Setelah saya jelaskan manfaat dan kesenangan di balik mengoleksi kartu pos akhirnya mereka maklum. 

 

F: Bukannya bersikap membedakan gender, nih, tapi Fanni cukup amazed dengan kehadiran pria-pria penggiat Card to Post  yang aktif seperti Mas Isna. Apakah pandangan Mas Isna tentang kegiatan mengirim kartu dari sisi kecowokan? Apa rekan-rekan pria yang lain menghargai atau malah memandang sebelah mata?

I: Saya tinggal di lingkungan kecil. Jumlah pegawainya sekantor hanya enam orang. Setiap hari saya tinggal di rumah dinas atau mess yang dihuni oleh tiga orang pegawai. Dalam lingkup yang sekecil itu alhamdulillah nggak pernah ada tanggapan macam-macam baik positif apa negatif dari kawan-kawan. Fine-fine aja tuh. Hehehe. Saya pikir mengirim kartupos bukanlah monopoli hobi cewe aja. Namun, jujur untuk membuat kartupos handmade saya sebagai cowok tidak bisa membuat sebagus yang cewek bikin. Saya nggak telaten menggambar, kalau nempel-nempel juga kurang rapi. Hehehe… 

 

F: Apa saja program dari Card to Post yang pernah Mas Isna ikuti? Bagaimana cerita serunya?

I: Belum pernah, tapi pengen ikut.

 

F: Wah, yang selanjutnya harus ikut ya, Mas. Hehe. Siapa rekan Card to Post yang cukup intens berkirim kartu dengan Mas Isna? Lantas apakah berlanjut ke tahap pertemanan yang lebih lanjut? Hehe 

I: Kamu dan Lana Syahbani. Sejak awal gabung di Card to Post  mereka berdua selalu membalas kartu pos saya dibandingkan dengan anggota yang lain. Kami berkomunikasi lewat Twitter selain lewat Card to Post. Saya tinggal di Jambi dan mereka di Jawa Barat. Pengen sekali kapan-kapan mereka ke Jambi atau kalau saya main ke Bandung bisa kopi darat atau jalan bareng sama mereka.

 

F: Apa yang menjadi daya tarik Mas Isna dalam menggemari sebuah kartu pos: gambarnya, isinya, atau nilai historisnya? 

I: Semuanya. Hahaha. Saya suka jalan-jalan dan mengenal tempat baru. Jika mendapat kiriman kartu pos seolah-olah saya habis membaca satu buah buku. Jadi wawasan saya makin berkembang. Selain itu kartu pos buat saya adalah salah satu sarana menjalin persahabatan yang cukup efektif.

 

F: Wah, justru Fanni yang senang saat terima salah satu kartu dari Mas Isna yang dilampirkan dengan kartu undangan kegiatan budaya di Jambi. Mas Isna memberi aku kesempatan untuk lebih mengenal kota yang belum pernah Fanni datangi itu. Lalu,  apa harapan Mas Isna untuk Card to Post ke depannya?

I: Semoga Card to Post makin banyak dan makin aktif anggotanya. Saya sementara ini berhenti request alamat di cardtopost karena sedikit sekali respons balasan dari sejumlah kartu pos yang saya kirimkan :-( 

 

F: Wah, ayo rekan – rekan anggota yang merasa dapat kartu dari Mas Isna jangan sungkan dibalas ya, yang kirim nyariin nih. Mas, beri salam dong dan pesan pesan untuk teman-teman Card to Post semua! 

I: Halo teman-teman cardtopost dimanapun kalian berada, terus berkirim kartu pos yah :-) 

 

F: Nah mas isna, boleh loh ditambah dengan cerita menarik lainnya yang mungkin belum Fanni tanyakan.

I: Awal gabung di Card to Post saya pikir Fanni itu cowo dan baru beberapa bulan belakangan saya tahu kalo Fanni tuh punya saudara kembar namanya Finna. Ini saya ketahui dari Twitternya Fanni. Hehehe. 

 

F: Nah itu dia salah satu nilai historis berkirim kartu antara Fanni dan Mas Isna. Setelah kejadian ‘salah kaprah’ itu, Fanni kemudian mengkonfirmasi melalui Twitter. Jadilah kami makin akrab. Apa namaku macho, gitu Mas? Hehe. Thanks Mas Isna! Salam untuk keluarga.

I: Makasih Fanni :-) Nanti saya sampaikan

 

F: Nah karena Mas Isna belum mendokumentasikan kartu – kartu miliknya, maka Fanni sertakan beberapa kartu yang Fanni terima dari Mas Isna ya. Kalau masih penasaran, ayo kulik di Ruang Pamer dan kirim kartu ke Mas Isna sekarang. Fanni jamin pasti cerita dan bentuk kartunya seru. Selamat menjelajah melalui kartu, teman-teman!

 

dan ini dia Isna Saragih: 

 

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger