RUANG BACA

Kartu Pos Selalu Menghadirkan Kedalaman Rasa
Post by Rizki Ramadhan018 Juli 2013

 

Sebelum mulai bercerita panjang lebar, kuperkenalkan dulu diriku. Namaku Andik Darmawanto. Siapapun pasti bisa nebak kalau nama panggilanku Andik. Siapa aku? Kukira sudah cukup jelas dan gamblang juga kusampaikan di Kamarku. Aku pria lajang yang masih menuntut ilmu sebagai mahasiswa, seperti sebagian teman-teman di sini. Sementara, teman-teman seangkatanku sudah menjadi orang sukses, sudah pada menikah dan punya anak, bahkan sebagian anak mereka sudah mulai masuk SD. Dari situ kebayang dong berapa umurku.

 

Kok bisa aku sedemikian tertinggal dari teman-teman angkatanku? Boleh dikatakan, semua terjadi karena institusi yang mempekerjakanku menganggap aku belum layak untuk bekerja dan butuh bekal yang lebih banyak. Makanya, institusi itu kemudian mengirimku untuk menjalani “proses pengenceran otak” di negeri Paman Sam. Otakku terlalu kental. Harapannya, dengan aku belajar lagi ini, nanti aku pulang, otakku sudah encer, sudah sedikit lebih pintar, sehingga layak untuk bekerja.

 

Perkenalanku dengan kegiatan kirim-kiriman benda pos dimulai ketika aku masih SD, bacaan rutinku adalah majalah Bobo, Mentari-Putera Harapan, dan Kuncup. Nah, dari majalah-majalah itu lah aku jadi tertarik untuk berkorespondensi dengan teman-teman dari seluruh Indonesia. Sejauh aku ingat, hampir semua sahabat penaku waktu itu lebih tua dariku. Aku selalu menyapa mereka dengan panggilan kakak. Sejak itu aku rajin berkirim surat hingga aku duduk di bangku SMP.

 

Ada sensasi tersendiri yang kurasakan dengan memiliki sahabat pena. Ada yang kita nantikan dan rindukan setiap hari. Setiap sepulang sekolah, hal pertama yang kulakukan adalah melihat apakah ada surat untukku atau tidak. Saat itu, dalam seminggu aku bisa dua-tiga kali ke kantor pos untuk mengirim surat balasan ke sahabat-sahabat penaku.

 

Selepas SMP, aku lanjut ke SMA di kota (karena aku berasa dari kampung, hehe). Mulailah aku kenal komputer dan internet. Saat itu sedang ngetren MiRC dan Friendster. Seperti anak kecil dapat mainan baru yang lebih menarik, mainan lamanya ditinggalkan. Begitu pulalah aku. Aku jadi gandrung dengan teknologi baru itu. Kebisaaan berkirim surat pun terlupakan. Kantor pos pun menjadi gedung asing yang kukunjungi hanya kalau harus ngirim paket atau surat-surat resmi dari instansi, atau kalau menjelang hari-hari raya Idul Fitri atau Natal untuk mengirim kartu ucapan (meski jumlahnya tak sebanyak ketika belum ada internet J)

 

Rindu Surat-Menyurat Karena Merantau

 

Singkat cerita, perjalanan hidup mengantarku menjadi orang rantau, harus meninggalkan tanah air untuk menuntut ilmu. Jauh dari tanah air, jauh dari keluarga, sahabat, dan kerabat, seringkali menimbulkan rasa rindu yang sangat dalam. Banyak kenangan yang seringkali tiba-tiba muncul. Oh ya, sedikit cerita dulu, di sini aku tinggal di asrama bersama teman-teman dari berbagai negara. Tahun ini, penghuni tempatku tinggal berasal dari 12 negara. Nah, di asrama kami ada satu ruang yang kami sebut mail room, tempat yang ada kotak-kotak surat untuk tiap penghuni. Seluruh surat yang dialamatkan ke kami akan masuk ke kotak tersebut. Kadang-kadang timbul rasa sedih dan iri kalau kotak suratku kosong berminggu-minggu, sementara ada teman lain yang sering sekali mendapat kiriman sesuatu, entah surat, entah kartu pos. Dalam keadaan seperti itu, memori masa SD dan SMP ketika aku masih sering berkirim surat, kembali muncul. Ada semacam kerinduan untuk kembali berkirim surat lewat pos.

 

Oh ya, sejauh pengamatanku, masyarakat di kota tempat tinggalku kini masih membudayakan untuk berkirim kartu pos dan kartu ucapan. Menurutku, mereka merasa memberi atau menerima penghargaan lebih ketika menyampaikan atau menerima ucapan rasa terima kasih atau ucapan selamat melalui kartu dibandingkan menyampaikan ucapan melalui SMS atau email.

 

Suatu ketika, ketika sedang berselancar di dunia maya, aku menemukan situs Postcrossing. Tentunya teman-teman juga tahu kan situs itu? Ketika mengunjungi situs itu, aku merasa menemukan apa yang kucari. Maka aku bergabung dengan Postcrossing, dan mulai berkirim kartu pos lagi. Walau tak sesering zaman SD aku berkirim kartu pos, namun aku bisa merasakan kembali sensasi rindu di saat-saat menantikan dan gembira saat menemukan surat/kartu pos di kotak suratku.

 

Nah, ketika berselancar mencari kartu pos untuk Postcrossing itulah, aku ketemu dengan blognya Card to Post. Wah, ada postcrossing a’la Indonesia nih, pikirku saat itu. Tanpa pikir panjang, aku juga langsung gabung. Dann…..di sinilah aku sampai sekarang J

 

Kedalaman Rasa Kartu Pos

 

Bagiku pribadi, berkirim kartu pos memberikan sebuah nilai dan pelajaran yang menarik. Dengan teknologi komunikasi digital seringkali orang tidak sampai merasakan–kalau boleh kuistilahkan–kedalaman rasa dalam komunikasi. Saking cepatnya komunikasi di era internet ini, relasi dan komunikasi hanyalah sekedar komunikasi sambil lalu” saja.

 

Melalui kartu pos dengan tulisan tangan teman-teman—apalagi dengan kartu pos karya sendiri—aku  merasa kehadiran fisik dari teman-temanku, bukan hanya sekedar dalam wujud huruf-huruf di layar komputer atau ponsel. Walaupun tentu saja hal ini bukan berarti kita kemudian meninggalkan sarana komunikasi canggih yang tetap sangat membantu dalam banyak hal.

 

Nah, dari sini aku belajar, ketika hidup terasa hambar, rutinitas terasa membosankan, tekhnologi yang supercepat terasa menjenuhkan, itulah saatnya kita perlu untuk kembali ke akar dan melihat sejarah yang kadang sudah kita lupakan.

 

Mengenai ini, aku juga menemukan hal yang serupa dalam hal lain. Kebetulan, seperti Kiram (Rizki Ramadan) aku juga senang bermain-main dengan film dan kamera analog. Ketika aku memotret tanpa melihat langsung hasilnya dan ketika memproses sendiri film di kamar gelap, aku merasakan sebuah “rasa” yang lain, yang lebih dalam, lebih menarik, harap-harap cemas, dan menemukan hal yang tak terduga. Sesuatu yang tak bisa kita temukan dan rasakan ketika kita memotret dengan kamera digital, di mana kita bisa melihat hasilnya secara instan. Barangkali hal ini bisa dibandingkan juga dengan orang yang hidup dan bekerja di kota besar, kemudian ingin mencari kesegaran dengan berlibur ke pedesaan.

 

Pengalaman ber-Card to Post

 

Khusus tentang Card to Post, banyak juga hal menarik yang kualami. Contohnya, kalau di Postcrossing  kita tidak bisa menentukan kepada siapa kita akan mengirim kartu pos. Kita ggal bilang mau mengirim kepada berapa orang, dan si penerima kartu pos kita sudah ditentukan oleh admin. Nah, di Card to Post, kita bisa memilih sendiri kepada siapa kita mau mengirim kartu pos. Inilah menariknya. Ketika kulihat ternyata nama “ANDI” adalah nama pasaran di Card to Post,  aku tiba-tiba punya pikiran untuk mengirim kartu pos kepada mereka semua. Jadilah kuminta alamat semua anggota yang bernama Andi kepada admin. Hehehe. Tapi nggak tahu juga, berapa yang nyampai, karena nggak semua memajang kartu pos yang mereka terima.

 

Pengalaman lain yang cukup menarik, dalam kartu pos balasan dari salah satu teman yang kukirimi kartu pos, dia menceritakan bahwa ada temannya yang sedang magang di kota yang sama dengan tempat tinggalku sekarang. Nah, karena penasaran, aku akhirnya kontak dia via email, setelah komunikasi berlanjut beberapa kali, usut punya usut, eh ternyata aku tahu keluarga cowoknya. Hahaha. Benar ternyata, bahwa dunia ini sempit. Sejak itupun kami berteman sampai sekarang.

 

Satu lagi manfaat yang pasti dengan bergabung di Card to Post dan menerima kartu pos dari teman-teman di Indonesia, aku merasa tetap dekat dengan tanah air tercinta meskipun aku sedang berada di rantau. Untuk itu, terima kasih teman-teman

 

Hmmm…..apa lagi ya? Oh ya, kalau mungkin teman-teman sempat melihat kartu pos yang kukirim dan sempat dipamerkan oleh teman-teman yang menerimanya, teman-teman bisa lihat kalau kartu pos yang kukirim bukanlah buatan tanganku sendiri. Memang, selama ini aku mengirim kartu pos jadi cetakan pabrik. Aku belum percaya diri untuk membuat sendiri kartu pos. Aku kurang terampil untuk bermain-main dengan kertas. Tapi semoga itu tidak mengurangi nilai dari ber-Card to Post. Kalau teman-teman ingin melihat kartu pos yang kukirim dan kuterima, teman teman bisa melihat di “Ruang Pamer” di website ini. Aku selalu mengunggah setiap kartu pos yang kuterima. Sayangnya, tidak setiap kartu pos yang kukirim diunggah oleh teman-teman yang menerimanya. Jadi, aku nggak tahu, apakah sampai atau nyasar. Kalau ingin melihat aktifitasku (yang tak terlalu aktif) di Postcrossing, teman-teman bisa lihat di http://www.postcrossing.com/user/Darmawanto

 

Kukira aku sudah cerita banyak deh Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, teman-teman bisa Tanya lewat postcard, ntar kujawabnya juga dengan postcard….jadi kirim-kiriman postcard deh kita, Hehe. Postcard buatan sendiri ataupun buatan pabrik, nggak masalah buatku. Semua istimewa, apalagi dengan tulisan tangan teman-teman 

 

OK, sampai jumpa lagi melalui kartu pos.

 

 

 

 

 

 

 

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger