RUANG BACA

Pagi Itu
Post by Rizki Ramadhan008 September 2013

Pagi itu, di hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke-68, Fanni dan saya melangkah beriringan memasuki Forest Walk Babakan Siliwangi. Masing-masing dari kami membawa tigatas gemuk. Orang yang kebetulan lewat boleh jadi menduga kami sedang kawin lari. Apalagi saat kami menggelar tikar dan memasang tali jemuran. Kami yang sebetulnya cuma teman ini lantas mengeluarkan bekal makanan dan peralatan yang mereka bawa dari rumah. Di kejauhan terdengar lagu Indonesia Pusaka. Fanni sibuk dengan teleponnya. Usai menjepit sejumlah kartu pos di tali jemuran. Nah, sekarang tinggal tunggu teman-teman yang lain, pikir saya.

Saat matahari semakin naik, kami tak lagi berdua. Berturut-turut muncul juga peserta Meet Up Card to Post yang lain: Lana, Upeh, Lily, Tomy, Rizki, Talitha, Muti, dan Widya. Sebagian dari kami baru pertama kali bertemu. Sebagian lainnya pernah berjumpa, tetapi lebih sering bertukar kabar lewat kartu pos. Jumlah teman-teman yang hadir ini kejutan—beberapa hari lalu, setengah berguraukami memasang target pesimistis, “Yaa, lima atau enam orang!”

“Halo semuanya, kenalin aku Fanni!” Fanni membuka sesi sharing peserta dengan keceriaan seterik matahari siang itu. “Aku mulai jadi anggota Card to Post sekitar Maret 2012. Beberapa temanku sudah jadi anggota duluan. Sejak awal, aku membuat kartu pos handmade. Alasannya aku nggak punya printer dan nggak bisa bikin desain di komputer. Ah, aku ingat kartu yang dulu kukirim ke Rizki! Gambar singa, cupu pokoknya! Dulu pas kuliah aku tinggal di asrama. Waktu mau bikin kartu pos, aku cari-cari inspirasi di dalam kamar. Pas lihat seprei ternyata ada gambar singa, akhirnya kutiru gambar itu dan hasilnya kukirim!”

“Lama-lama, aku mulai penasaran dengan orang-orang yang berkirim kartu denganku. Apa sih yang mereka rasakan waktu mengirim kartu pos? Seperti apa koleksi mereka? Apalagi aku menerima banyak kartu bagus-bagus. Contohnya kartu pos bergambar VW ini. Aku dikirimi Annisa Astitri. Sejak dulu aku dan papa penggemar VW, keluarga kami pernah punya segala jenis VW.”

 

Selanjutnya, Fanni memilih Upeh berbagi pengalaman kartu pos. “Nama saya Ulfa, biasa dipanggil Upeh,” ujar anak ini kalem.“Aku pertama kali menerima kartu pos kiriman Bening dari Singapura. Padahal kami nggak kenal-kenal amat. Suatu hari di Twitter aku membaca tawaran Bening yang lagi kepingin mengirim kartu pos. Karena suka kartu pos, aku menyambut tawaran itu. Rupanya Bening anggota Card to Post, sejak itu aku tertarik bergabung.

Salah satu kartu pos buatan Upeh bergambar motif bunga dan daun yang digambar sendiri dengan spidol. Kartu itu kelihatan unik, lain dengan kartu-kartu yang sudah muncul di Ruang Pamer Card to Post. “Wah ini harus dikirimin, Pe’!” seru saya antusias. Upeh lantas mengaku, “Aku banyak kok mengirim kartu ke teman-teman yang lain, tapi sedikit yang pamer dan membalas.”

Sebelum menyudahi kisahnya, Upeh sempat berbagi cerita tentang mengirim kartu pos pada … “Kecengan,” ujarnya. Serta merta peserta lain menajamkan telinganya. “Terus dibalas, Pe’?” “Enggak perlu balasan,” jawab Upeh tegas. “Ini bukan soal balasan, tapi soal usahaku menyampaikan sesuatu.”

Upeh meminta Lana melanjutkan cerita. Di jagat Card to Post, kartu pos dari Lana memiliki penunggu setianya. Lana menggambar dengan khas dan kerap menyambung kisah setiap kartu pos yang diterimanya. Dialog tak hanya dilakukan lewat tulisan, tetapi juga lewat gambar.

“Pertama kali, aku kenal Card to Post dari zine-zinean online Salamatahari,” Lana mengawali cerita. “Aku juga pemalu, jadi senang bisa menyampaikan sesuatu lewat gambar dan tulisan” Sambil bicara, ia memilih-milih kartu dari koleksinya. “Karena aku suka paper doll—boneka kertas yang bajunya bisa diganti-ganti—aku lalu mengirim kartu pos dengan cetakan paper doll. Dari kirim-kiriman ini, aku mengenal food blogger yang minta dikirimi kartu pos paper doll juga. Kami pun kirim-kiriman. Lama-lama, aku nggak mendengar kabarnya lagi. Setelah tahun baru 2013, aku mengirim lagi kartu pos ke dia. Kata-katanya, ‘Halo, lama tak jumpa.’ Dia lalu mengirim kartu pos bergambar orang hampir tenggelam yang berseru, ‘Tolooong!’  Rupanya temanku cerita kalau rumahnya baru saja kebanjiran. Belakangan dia sibuk mengurusi soal ini. Kartu pos ini berkesan karena di saat yang sama aku sedang praktek kerja lapangan di Jakarta.

Ketika ditanya soal gambar-gambar, Lana tersenyum, “Aku punya metode mengirim kartu pos: pertama kartu pos yang datang kukumpulkan sampai agak banyak, baru aku menggambar semua kartu balasannya. Kadang-kadang, menunggu mood menggambar ini agak lama, jadi balasannya juga lama,” Lana tertawa bersalah. “Sebetulnya dulu cita-citaku jadi anak seni rupa, tapi belum kesampaian karena nggak keterima di negeri. Akhirnya jadilah aku anak jurnalistik. Karena suka gambar, maka aku tetap melakukannya. Aku berupaya agar gambar dan tulisanku bisa dilihat banyak orang. Maka dari itu aku bikin zine bersama teman-teman.”

“Gambar kamu detail, Lan! Dari mana asal detail itu?” tanya Fanni.

“Sebetulnya detail gambarku itu dibuat untuk menutupi kekuranganku dalam menggambar. Misalnya kesulitanku membuat gesture. Aku mencoba menutupinya dengan menambahkan detail. Detail yang kecil-kecil.”

Lana kemudian menunjuk saya. Saya tak suka karena setiap bicara di depan umum jantung saya berdebar dan konsentrasi buyar! “Aku dulu juga kenal Card to Post dari Salamatahari. Waktu itu edisi ‘Soal Essay’, pembaca bertugas menulis sendiri isi Salamatahari. Rupanya Card to Post keluar dalam ujian! Aku suka menulis, jadi senang-senang saja waktu bikin cerpen yang terinspirasi header Card to Post. Cerpenku sama sekali nggak berhubungan dengan apa Card to Post sebenarnya, tapi membuatku penasaran mencari tahu tentang komunitas ini. Tadinya kukira Card to Post semacam toko onlineyang menjual kartu pos, tapi ternyata nggak begitu juga. Akhirnya aku daftar jadi anggota Card to Post.”

“Begini,” jelas saya, “ada satu hal yang selalu kulakukan sewaktu mengenal teman baru dan merasa nyaman dengan mereka: aku selalu bilang kalau aku homoseksual. Tujuannya supaya nggak tersangkut rumitnya percintaan dan nggak dijodohkan salah sasaran. Nah, itu juga yang kulakukan pada teman-teman yang kukirimi kartu pospada kartu pos pertama. Tapi ini justru bikin aku jarang dapat balasan.”

“Untungnya aku kepikiran mengirim kartu ke Sundea, penulis Salamatahari yang sudah kukenal duluan.,” saya melanjutkan. “Meskipun sekarang Dea jarang mengirim kartu, tapi balasannya waktu awal aku bergabung membuatku tetap semangat berkirim kartu pos. Lama-lama ada juga anak Card to Post yang terus membalas kartuku, namanya Hanifah Nurhayati. Aku suka nulis panjang di kartu pos, dia juga suka. Kami bertukar banyak cerita, termasuk karakter Spongebob favoritnya (Sandy) dan episode Spongebob favoritku (Imajinasi).”

Setelah saya, giliran Lily bercerita. Di antara kami, Lilylah yang memiliki pengalaman korespondensi paling banyak.

“Waktu kecil dulu, aku suka kirim-kiriman surat dengan sepupuku. Dia tinggal di Bandung, aku di Jakarta. Pas SMA, aku ikut pertukaran pelajar. Aduh, itu kesepian sekali! Aku tinggal bersama para koboi di Arkansas. Mana waktu itu internetnya masih dial up connection …” tukas Lily. “Aku mulai lagi menyurati keluarga dan teman-teman. Semuanya kutulisi. Dulu dalam seminggu aku bisa sampai mengeposkan tiga surat. Bedanya dengan di Indonesia, di sana kita nggak perlu membawa surat yang sudah berprangko ke kantor pos. Tinggal kita masukkan ke bus surat, setelahnyakita balik benderadi bus surat. Nanti surat itu akan dijemput Pak Pos. Bendera merupakan tanda bahwa bus surat terisi.”

Kemarin ada mahasiswaKorea ke kampusku, ITB, ujar Lily. Waktu mau pulang, aku dan teman-teman minta dia mengirimi kami kartu pos. Eh, rupanya dia ingat—waktu sampai di Jepang dia betul-betul mengirim! ‘Aku sudah sampai Jepang, lho!’ katanya. Waktu tiba di China dia mengirim sekotak kartu pos yang katanya harus dipakai sampai habis. Gambarnya lucu-lucu! Sayang dia nggak mencantumkan alamat, aku jadi bingung mau membalas ke mana. Aku sepakat sama temanku,semua kartu pos memang harus dikirim. Yang namanya kartu pos semakin berarti kalau dia menyampaikan pesan kepada seseorang.”

Habis Lily, terbitlah Rizki. Pemuda berkacamata ini adalah salah satu pendiri Card to Post yang mengampanyekan ajakan berkirim kartu ke berbagai media. Inspirasi Meet Up kami adalah sederet kegiatan Card to Post yang sudah digerakkan Rizki dkk. di Jakarta dan Yogyakarta. Setiap anggota Card to Post menemukan satu sama lain akibat upaya mereka. Dapat dibayangkan betapa senangnya peserta Meet Up Bandung saat berkesempatan bertemu dan mendengarkan cerita Rizki.

“Sebetulnya Card to Post berawal dari keinginan memiliki karya teman-teman,” tutur Rizki. “Saya penggemar fotografi. Bersama teman saya membuat online zine kumpulan foto, Memang Terlalu—MALU. Tadinya ide Card to Post dimaksudkan sebagai proyek MALU. Tapi kemudian idenya berkembang setelah saya cerita ke teman-teman. Setelah intens bercerita sama Dea, muncul ide menjadikan Card to Post sebagai bagian perayaan ulang tahun Salamatahari. Karena itulah ulang tahun Card to Post (17 November) dekat sekali dengan ulang tahun Salamatahari (19 November).”

Rizki lantas bercerita tentang proyek-proyek Card to Post. “Selain Kartu Pos Untuk Presiden juga ada Kartu Pos Berantai,” ujarnya sambil mengeluarkan beberapa Kartu Pos Berantai yang dibawanya. “Kartu Pos Berantai ada yang berbentuk cerita, kolase. Sebetulnya ada juga kelompok gambar, tapi nggak ada satu pun kelompok gambar yang mencapai garis finish. Rupanya susah juga. Ada peserta yang tiba-tiba enggan meneruskan kartunya. Ada kartu-kartu yang tertunda di kantor pos, hilang. (“Kartu kelompokku!” ratap Fanni.) Padahal di setiap kartu disertai memo, ‘Pak Pos, tolong antarkan kartu ini dengan selamat, ya? Kartu pos ini sangat penting! Terima kasih.’”

Proyek Kartu Pos Untuk Presiden juga mengalami hambatan. “Sampai sekarang kartu-kartu ini belum dikirim kepada Presiden. Alasannya, semua kartu yang masuk belum terdokumentasikan dan bisa diakses oleh masyarakat. Sayang sekali kalau hanya dikirim, lalu hilang kabarnya. Tadinya kami mau menyelenggarakan pameran dan membukukan Kartu Pos Untuk Presiden, tapi terkendala dana. Sejauh ini cara untuk memamerkannya adalah di acara-acara offline dan di timeline Twitter.”

Usai Rizki, teman-teman yang belum bercerita adalah Muti, Talitha, Widya, dan Tomy. Namun karena Muti, Talitha, dan Widya sama-sama newbie yang datang terlambat, maka mereka tidak sempat berbagi cerita. Sesi sharing diakhiri dengan cerita Tomy, seorang pelukis jenaka yang senang melukis kartu pos yang diterimanya ke atas kanvas.

 

“Skalanya 1:1. Kalau ditanya mengapa, jawabannya sama seperti kalian. Saya awalnya terinspirasi kartu yang dikirim mantan saya,” ujarnya sembari cengengesan. Tomy pun menunjukkan kartu yang dimaksud. “Kartu ini bergambar sebuah lukisan di Museum Louvre. Sejak itu, saya malakin teman-teman saya mengirimi kartu juga. Saya melukis bagian depan dan bagian belakang kartu.”

 

Tomy tersenyum. “Beberapa lukisan selesai dengan cepat karena saya senang mengerjakannya, tapi di beberapa lukisan yang lain saya menemukan masalah dan selesainya bisa sampai satu tahun.

Saya mengangguk-angguk. Saya tak mengerti bagaimana cara sebuah karya dihargai secara materi. Namun saya menduga, jika ada orang yang melukis kembali kartu pos yang diterimanya—termasuk pesan-pesannya dengan tulisan semirip mungkin. Barangkali kartu-kartu itu sangat penting baginya. Kartu-kartu pos, meskipun dari orang yang sama, kadangkala tulisannya berbeda-beda. Barangkali juga, dengan menulis kembali pesan si pelukis bisa lebih mengerti perasaan si penulis kartu pos. Saya bertanya-tanya, seandainya saya memiliki kemampuan melukis Tomy, kartu mana yang ingin saya perlakukan begitu.

 ***

 Sesi cerita berlanjut dengan sesi membuat kartu pos bersama. Pada Meet Up ini, Lily melontarkan ide permainan berkirim kartu pos secara anonim. Setiap peserta menulis alamatnya dalam sebuah kertas kecil yang lantas digulung dan dibagikan lagi ke masing-masing peserta. Setiap peserta mesti menulis kepada orang dengan alamat yang didapatnya. Kepada siapa kartu pos kita ditujukan merupakan TOP SECRET.

Berbeda dengan sesi cerita, sesi membuat kartu pos lebih enak diceritakan lewat gambar. Mari mengamati saja foto-foto yang diambil oleh Rizki:

 

 

Kuas dan cat poster bekal Muti, dan kartu pos kosong dari Rizki.

 

 

Widya sedang melukis kartu posnya.

 

Talitha sedang menggunting majalahnya untuk membuat kartu pos kolase.

Tomy sedang menggambar kakinya sendiri di atas selembar kartu pos dengan alas papan seluncurnya.

Sampai di sini, saya tidak bisa menjelaskan bagaimana hari itu waktu terasa begitu cepat berlalu. Sesi membuat kartu pos bersama lantas diikuti sesi makan siang dan mengobrol bebas. Dengan wajah riang Muti dan Widya pamit pulang duluan. Setelah berjalan kaki mencari tempat makan, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang cukup bagi semua. Kami pun berusaha mengenal satu sama lain lebih baik: Rizki mencari tahu peluang pekerjaan di Bandung; Lana bercerita tentang zine-nya; Talitha tentang kesenangannya berburu barang antik; Tomy memberikan tutorial melukis kaki Fanni; saya, Upeh, dan Lily saling bertukar alamat dan nomor telepon, Tiba-tiba langit berawan, dan waktu sudah menunjukkan sekitar jam empat sore. Di luar tempat makan, masing-masing peserta berpisah dengan senyum senang.

 

 

 

 

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger