RUANG BACA

Festival Seni Pengiriman Kartu Pos Untuk Kota
Post by Putri Fitria012 September 2013

Demi manusia yang hidup di kota, yuk... kita kirim aspirasi buat pak wali dengan cara yang kreatif!

Jumat, 13 September 2013
15:00, di kantor pos besar
0 km Yogyakarta

kumpul bareng dulu :
di bawah patung kaki
depan monumen s01 maret
malioboro

jangan lupa bawa perangko Rp2000,- dan alat tulis.

kartu pos akan dibagikan di lokasi dengan jumlah terbatas.
atau, teman-teman juga langsung bisa mengunduh templatenya di:

http://www.mediafire.com/view/?yd7tqnpjfcyuoe1

rekomendasi dresscode: mimpi buruk/horor

***

 

SIARAN PERS

Kartu Pos untuk Kota

Mimpi Buruk untuk Haryadi

Jumat Kliwon, 13 September 2013, 15.00- 17.00

 

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Yogyakarta tahun 2012 – 2016 menerakan ada sejumlah isu strategis yang harus dikelola. Sebelas isu pembangunan itu meliputi kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan daerah, kinerja aparatur daerah, kesehatan, infrastruktur dan tata ruang, pelayanan administrasi publik, pendidikan, UMKM dan koperasi, kemiskinan, kualitas SDM, perekonomian daerah, dan daya dukung pengembangan usaha. Namun, disadari, mewujudkan visi sebagai kota pendidikan berkualitas, berkarakter dan inklusif, pariwisata berbasis budaya, dan pusat pelayanan jasa yang berwawasan lingkungan dan ekonomi kerakyatan bukan hal yang mudah. Bahkan, dua faktor utama, pendidikan dan pariwisata menjadikan kota Yogyakarta dan perkembangannya menjadi kawasan yang maju pesat dan cenderung sibuk. Laju pembangunan yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan penduduk tetap, domisili, dan pengunjung/wisatawan memiliki konsekuensi perubahan pada lingkungan alam dan budaya di Yogyakarta. 

Namun, faktanya, tantangan bagi kota Yogyakarta itu belum bisa terkelola dengan baik. Penurunan kualitas hidup berkota akibat ancaman perusakan dan/atau kerusakan sebagai dampak laju pembangunan cenderung terbiarkan. Persoalan kota semakin menggunung. Berbagai masalah bermunculan dan berkembang dari berbagai lini. Kendati demikian, permasalahan ini tak kunjung mendapat perhatian apa lagi tindak lanjut dari Pemerintah Kota Yogyakarta. Penataan ruang publik yang buruk, akses dan fasilitas untuk para difabel yang tak layak, pembinaan olah raga yang terbengkalai, kawasan tepi sungai yang semakin tak terurus, menjamurnya pembangunan hotel yang membebani lingkungan kota, perusakan cagar budaya yang terbiarkan, hingga banyaknya aktivitas seni budaya yang dihilangkan merupakan beberapa dari sekian banyak persoalan yang saat ini dihadapi oleh kota Yogyakarta. Timbunan masalah ini semakin meresahkan masyarakat dan memunculkan pertanyaan dimanakah peran negara dalam mengatasi persoalan-persoalan ini.

Masyarakat Yogyakarta telah memandatkan peran kepada pemerintah kota, negara, untuk mengelola potensi dan isu-isu pembangunan. Kepemimpinan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses ini. Jadi, ketika terjadi penurunan kualitas pengelolaan kota yang lestari, pertanggungjawaban tetap harus dilayangkan kepada pimpinan daerah,  dalam hal ini walikota dan wakil walikota. Walikota dan Wakil Walikota Yogyakarta tidak cukup tanggap mengelola keadaan dan tak memiliki arah/konsep yang jelas dalam kepemimpinannya. Akibatnya, kota ini dan pembangunanya berjalan secara “autopilot” karena “hilangnya kepemimpinan (negara)” yang menyebabkan munculnya ruang-ruang kosong yang merupakan peluang bagi kepentingan dan kekuasaan untuk saling berbenturan dan memperburuk persoalan.

Menyikapi fenomena tersebut, berbagai elemen masyarakat, yang sadar akan situasi ini bergerak menyampaikan gagasan dan aspirasinya  memalui happening art “Kartu Pos untuk kota; Mimpi Buruk untuk Haryadi”  pada hariJumat kliwon 13 September 2013 pukul 15.30. Happening art ini akan diikuti oleh lebih dari 200 orang yang terdiri dari berbagai komunitas di Yogyakarta antara lain, supporter PSIM, Kota untuk Manusia, Card to Post, seniman-seniman Yogyakarta, Arsitek Komunitas Jogja (ARKOM), Komunitas Difabel, Ibu-ibu Kali Jawi dan masih banyak lagi. Komunitas-komunitas ini akan mengutarakan aspirasi dan persoalan yang mereka hadapi melalui media kartu pos yang mereka tulis dan lukis lalu dialamatkan kepada Walikota, Haryadi suyuti di Balai Kota Yogyakarata. Ratusan kartupos ini nantinya akan dikirimkan di Kantor Pos Yogyakarta secara bersama-sama. Happening art ini dilakukan di kantor pos juga sebagai bentuk keresahan masyarakat akan tidak sampainya aspirasi publik melalui jalur-jalur formal.

Seluruh komunitas yang terlibat akan mengenakan kostum dangan tema “Mimpi Buruk” seperti kostum horror atau karakter menyeramkan, penggunaan kostum sera mini merupakan representasi dari suramnya persoalan yang sedang mereka hadapi saat ini.  Mimpi buruk itu akan dibawakan kepada Pemerintahan kota Yogyakarta agar segera  dicarikan jalan keluar dan ditindak lanjuti. Panjangnya antrian yang terjadi dalam happening art ini merupakan cerminan dari banyaknya masalah kota Yogyakarta.

komunitas-komunitas yang mengikuti happening art memilih menggunakan seni sebagai media karena dengan seni pesan yang disampaikan dapat “lebih diterima”. Seni yang digarap secara baik dan tepat sasaran akan membuat pesan yang disampaikan menjadi lebih kuat dibandingkan dengan menggunakan cara-cara konvensional yang sarat dengan potensi gesekan horizontal.  

Happening ArtKartu Pos untuk kota; Mimpi Buruk untuk Haryadi”   ini juga merupakan pre-event untuk rangkaian acara Festival Seni Mancari Haryadi yang akan digelar mulai bulan Oktober 2013.

 

Daliho Kusbirin (koordinator happening art) : Aktivitas ini adalah bentuk kepedulian kita sebagai warga masyarakat Yogyakarta yang didasari oleh kebutuhan akan hidup yang manusiawi. Lewat media kartu pos dan kesenian kita bersuara sebagai manusia yang berbudaya sekaligus sikap kreatif dan optimistik. Semoga pesan-pesan ini bisa direspon menjadi sesuatu yang produktif. Karena pertumbuhan kota seharusnya merangkul dan berpihak pada manusia yang hidup di dalamnya.

 

FESTIVAL SENI MENCARI HARYADI

Oktober 2013 sampai Yogyakarta Kembali Berhati Nyaman

Mandegnya peran negara yang di kota diwakili oleh walikota Haryadi Suyuti dan wakilnya Imam Priyono semakin memburuk dari hari ke hari. “Hilangnya negara” di Yogyakarta menyebabkan banyak persoalan muncul, bergulir dan semakin besar. Persoalan pariwisata yang kumuh, pertumbuhan hotel yang menggila, terlantarnya klub sepak bola, ruang publik yang tak terurus sampai kawasan bantaran sungai dengan kontroversi lahan yang ada di dalamnya seakan tak digubris dan dibiarkan saja berkembang.

Festival seni Mencari Haryadi bertujuan untuk mempertanyakan kembali hilangnya peran negara dalam mengatasi persoalan-persoalan yang ada di masyarakat. Seniman dan masyarakat yang sadar atas situasi ini akan menyatukan gagasan dan kemudian melakukan aksi budaya untuk mengangkat persoalan ini kepermukaan untuk merangsang Negara mengambil langkah-langkah kongkret dalam menyelesaikannya.

 

Festival ini terbuka untuk siapa saja yang ingin mengangkat persoalan-persoalan yang tak dijamah oleh negara yang di kota Yogyakarta ini diwakili oleh walikota Hayadi Suyuti dan Imam Priyono. Segala potret persoalan tersebut akan dikemas dalam bentuk yang artistik sebagai media untuk menjembatani aspirasi.

comments powered by Disqus

Selamat datang di Cardtopost, silakan masuk ke kamar untuk cek daftar minta alamat. Atau mau pamer kartu pos?

shout out
Muhammad Fachrizal

19 Februari 2017 18:55:18

Muhammad Fachrizal

Menerima swap0menswap wqwqwq

much asad royan purnadi

16 Februari 2017 14:15:50

much asad royan purnadi

hallo teman2 lama tak jumpa .. mari berbagi kembali kirim kirim kartu nyaa..

Dian Saputra

16 Februari 2017 13:13:17

Dian Saputra

Selamat hari bermalas-malasan (Effek mendung dan hujan seharian) hehe

Nurul Istiqomah

14 Februari 2017 14:52:12

Nurul Istiqomah

ada yang mau kirim-kirim kartu pos ?? :))

Tyas Dwi Arini

13 Februari 2017 17:22:25

Tyas Dwi Arini

Sudah request alamat ya Caecilia Ega :)

Video Dokumentasi 1000 Kartu Pos Untuk Presiden [Februari-September 2012]

shout out

24 Februari 2017

25 Februari 2017

26 Februari 2017

27 Februari 2017

Yahoo Messenger